Skip to content

Adakah Zakat pada Tanah dan Bangunan

Maret 21, 2011

Syaikh ‘Abdul Karim al Khudair hafizhohullah[1] ditanya, “Ada seseorang yang memberi tanah dan ia ingin membangun kebun di sana. Setelah satu tahun dari waktu pembeliannya, apakah ia harus mengeluarkan zakat dari tanah tersebut dan begitu pula tahun selanjutnya?”

Syaikh hafizhohullah menjawab,

Tanah yang dijadikan kebun tidak wajib untuk dizakati. Kecuali jika tanah tersebut ingin dibisniskan. Adapun jika di tanah tersebut ditanam sesuatu, maka zakatnya adalah dari tanaman tersebut atau dari penjualannya yang merupakan hasil dari tanah tersebut. Jadi, tanah itu sendiri tidak ada zakatnya. Baru ada zakat, jika tanah tersebut dimanfaatkan. Jika pemanfaatn itu memiliki hasil, itulah yang dikenai zakat.  Jika tanah tersebut memiliki bangunan (misalnya), lalu ada keuntungan dari bangunan tersebut, maka zakat ditarik dari keuntungannya dan bukan ditarik dari tanah dan bukan pula ditarik dari kontruksi bangunan. Sekali lagi zakatnya ditarik dari hasil (keuntungan) tadi. Jika tanah tersebut terdapat tanaman, maka zakatnya ditarik dari hasil tanaman (yaitu buah, dll). Demikian seterusnya. Jika di atas tanah tersebut didirikan sesuatu yang diperdagangkan, maka zakatnya diambil dari hasil perdagangan barang tersebut. Sedangkan bangunannya tidak dikenai zakat apa-apa. Zakat hanya diambil dari keuntungan penjualan barang-barang dagangan yang ada. Ketika keuntungan tersebut telah bertahan satu tahun (haul), maka barulah dikeluarkan zakatnya.[2]

sumber: http://rumaysho.com/hukum-islam/zakat/3292-adakah-zakat-pada-tanah-a-bangunan.html

 

Jika saya mempunyai tanah kavling/kosong yang belum digunakan atau rumah kosong yang tidak ditempati/dikontrakan apakah wajib Zakat ? Jika ya berapa besarnya dari harga beli atau harga pasar yang berlaku dan apakah setiap tahun harus dibayar zakatnya ?

Ulama fiqih umumnya menjelaskan kekayaan,tanah kavling atau rumah kosong yang tidak ditempati atau tidak dikontrakan maka tidak terkena zakat. Termasuk juga Jika tanah kavling atau rumah tersebut digunakan untuk tempat tinggal maka tidak ada kewajiban zakat atasnya. Tetapi, menurut Dr. Yusuf Al-Qardhawi jika kekayaan (termasuk tanah atau rumah tersebut) mengalami pertumbuhan dengan disewakan atau dijual maka wajib dizakatkan dengan dua model zakat. Pertama kekayaan dengan besar zakat 2.5% dihitung dari modal ditambah keuntungan, jika tanah atau rumah tersebut diniatkan dijual dan sudah laku terjual. Ulama mengqiyaskan model ini kepada zakat perdagangan. Kedua kekayaan dengan besar zakat 5% dan 10% dihitung dari hasil keuntungan saja didapatkan (seperti disewakan). Model ini diqiyaskan dengan zakat pertanian dikeluarkan saat mendapatkan hasil panen/keuntungan/uang sewa.

Hal tersebut beradasarkan dalil-dalil umum dari Al-Qur’an (QS. Al-Baqarah (2): (267) dan As-Sunnah yang berkenaan dengan masalah ini. Diantaranya berdasarkan hadits riwayat Abu Dawud dengan sanad yang hasan dari Rasulullah Saw bahwa beliau “memerintahkan supaya mengeluarkan zakat atas barang yang dipersiapkan untuk didagangkan”.

sumber: http://www.eramuslim.com/konsultasi/zakat/zakat-atas-tanah-kavling.htm

From → Zakat

One Comment
  1. zakat hanya diambil dari sesuatu yang ada di atasnya dan itupun jika sesuatu tersebut bersifat menambah harta?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: