Skip to content
Tags

,

Kedudukan Zakat Dalam Islam

Maret 17, 2011

Pertanyaan “kenapa mesti ada zakat?” Merupakan permasalahan yang patut diutarakan untuk mendapatkan jawaban atas keberadaan juga fungsi adanya zakat dalam Islam.

Dalam teori sosiologi, kemiskinan akan berakibat keresahan jika terjadi dalam situasi yang berhadapan secara kontras dengan kemewahan. Kedudukan inilah yang mengantarkan Daniel Lerner dianggap sebagai bapak modernisasi dan sekaligus harus mencabut teorinya beberapa tahun kemudian. Menurut Lerner teknologi modern akan mengubah masyarakat tradisional kearah modern sebab, media massa akan berdiri sebagai pembimbing masyarakat tradisional menuju masyarakat modern dan kemiskinan menjadi kemakmuran.

Setelah sepuluh tahun penulisan bukunya dia mencabut dan merevisi ulang teorinya. Hal ini terjadi lantaran, apa yang jadi kenyataan ternyata malah sebaliknya. Media massa ternyata malah merupakan penyebab terjadinya ekspektasi orang-orang miskin. Lewat media, orang-orang miskin menyaksikan kehidupan yang mempesonakan mereka. Mereka ingin meniru kehidupan seperti itu sementara keadaan pemerintah sendiri tidak dapat memenuhi kebutuhan itu, dan pada akhirnya mereka frustasi. Dalam penuturan Jalaluddin Rahmat, keresahan ini oleh para ilmuwan sosial digambarkan dengan istilah “deprivation”. Dari sifat keresahan ini rentan sekali kaitannya dengan keresahan sosial (social unrest), yang pada akhirnya berujung pada disintegrasi social.(Lihat. Jalaluddin Rakhmat, 2004: 232-233) Jika yang muncul demikian maka jelas yang terjadi dalam hubungan kehidupan sosial adalah kekacauan.

Dari pemaparan di atas jelas yang menjadi akar permasalahan kekacauan dalam kehidupan bermasyarakat adalah adanya kekontrasan antara kemiskinan dan kekayaan. Tanpa adanya persepsi yang menimbulkan kecemburuan sosial, permasalahan social unrest tidak akan terjadi. Oleh sebab itu Islam tidak melarang umatnya untuk mencari kekayaan sebanyak-banyaknya asalkan ia mampu menjaga kestabilan kondisi sosial (mencegah terjadinya social unrest) yakni dengan mendistribusikan kekayaannya kepa-da orang yang kurang beruntung. Dengan kata lain, di tengah kekayaan yang berhasil dikumpulkannya itu, umat jangan lupa mengeluarkan harta haknya para mustahiq zakat, yang utamanya fakir dan miskin. Dalam posisi seperti inilah hukum zakat diterapkan.

Dengan melihat tujuan zakat dan faktor terjadinya permasalahan hubungan sosial, maka jelas bahwa kedudukan zakat dalam Islam, selain sebagai tempat membuktikan ketaatannya terhadap aturan-aturan Allah SWT., zakat menjadi wahana untuk menetralisir hal-hal yang menyebabkan terjadinya ketidak harmonisan kehidupan bermasyarakat juga kesejahteraan hidup masyarakat itu sendiri.

Dengan zakat juga mengantarkan orang-orang muslim kearah yang lebih mulia. Dengan kekuatan financial yang dimilikinya, seorang muslim yang sadar zakat dan menunaikan kewajibannya itu, dia telah menguatkan agama dan para saudaranya. Pantas jika Rasulallah saw. menganjurkan kepada para amilin zakat, atau siapapun yang menerima harta zakat, untuk mendoakan mereka, allahumma shalli ‘alaihim, sebuah doa yang sama dengan yang biasanya diucapkan untuk Rasulallah saw. (shalawat).

Ketentuan zakat sendiri telah ditetapkan oleh Allah swt baik dalam jumlah pengambilannya maupun post-post tempat dana zakat itu disalurkan. Dengan demikian penetapan-penetapan baik itu pengambilan dari orang yang berkewajiban mengeluarkan zakat, maupun pendistribusian harta zakat itu sendiri, manusia tidak memiliki kewenangan merumuskannya.

Persentase yang ditetapkan kewajiban zakat memiliki pertimbangan akan usaha yang dikerjakan untuk mendapatkannya, sehingga dalam bentuk ini, prosentase zakat memiliki perbedaan. Bagi harta yang dihasilkan lewat usaha yang ringan memiliki prosentase yang lebih tinggi dibanding harta yang dihasilkan lewat usaha yang sulit. Sebagai contoh, Islam memberi kewajiban zakat lebih besar pada tanaman yang diairi oleh hujan dibanding dengan tanaman yang diari lewat tenaga sendiri. Begitupula yang terjadi pada harta hasil temuan atau barang tambang yang kedudukan pendapatannya bisa dibilang luar biasa sehingga zakat yang dibebankan adalah 20% dan harta temuan sebesar 50%, meskipun keadaan si penemu memiliki hutang.

Harta yang di dalamnya terdapat kewajiban zakat, antara lain:

  1. Harta simpanan
  2. Yaitu harta yang disimpan dan tidak digunakan selama setahun. Di dalamnya termasuk kelebihan pendapatan tahunan yang setelah dihitung pengeluaran setiap tahun. Harta ini tidak diinvestasikan dalam perdagangan atau industri dan tidak pula mengalami perputaran (harta diam) dalam satu tahun. Besar persenan zakat yang harus diambil adalah 2.5% sementara nishab zakatnya adalah dari 40 dirham ke atas.

  3. Barang tambang dan harta temuan
  4. Barang-barang ini dikenai kewajiban zakat sebesar 20% bagi barang tambang dan 50% untuk barang temuan

  5. Modal perdagangan
  6. Barang-barang yang diperdagangkan, apapun bentuknya, dikenai kewajiban zakat sebesar 2.5%. zakat tijaroh (jual-beli) dikenakan pada jumlah modal yang digunakan sehingga yang diperintahkan Rasulallah saw adalah mengambil zakat barang dagangan yang hendak dijual. Tatkala Khalifah Umar lewat di depan Abu Amar Bin Hammas yang sedang menjual kulit, beliau berkata: “keluarkan zakat hartamu!”, “Ya amirul mu’minin, ini hanya kulit!” ujar Hammas. Umar berkata: “taksirlah kemudian keluarkan zakatnya!”. (R As-Syafi’I, Ahmad, Abdurrazaq, dan Ad-Daraquthniy). Di kalangan fuqaha hadits ini sangat terkenal dan menunjukan kalau zakat tijarah tidak ada nishabnya.

  7. Hewan ternak dan sawa’im
  8. Binatang, baik yang sedang digembala maupun yang hendak dijual, wajib dikeluarkan zakatnya sebesar 2.5% tapi binatang yang dipelihara selain tujuan itu tidak dikenakan zakat.

    Sebelum masa khalifah Umar, masa Rasulallah saw dan Abu Bakar, kuda tidak dimasukan pada hewan yang mesti dizakati dikarenakan pada masa itu kuda dipelihara bukan untuk mata pencaharian (berternak atau dijual belikan), sementara umar menetapkan zakat atas hewan kuda lantaran pada zamannya, kuda sudah menjadi hewan ladang mata pencaharian masyarakat. Dengan demikian maka, hewan terkena zakat jika didalamnya dijadikan lading pencarian pengahasilan (berternak atau jual beli). Jumlah zakat yang diambil dari hewan ternak ini adalah berpareasi dan keterangan lebih lengkapnya dapat dilihat dalam hadits dari Shahabat Anas di kitab fiqih Bulughul Maram.

  9. Emas dan perak
  10. Emas dan perak, baik mentahan ataupun sudah dibentuk, merupakan barang wajib zakat. Meskipun sebenarnya kedua barang ini berbeda dengan barang dagangan lain, penentuan nishabnya biasanya disamakan dengan barang dagangan. Besar persenan zakat dari barang ini adalah 2.5%

  11. Tanaman hasil pertanian
  12. Istilah yang dipakai dalam zakat ini biasanya dengan kata ‘usyr atau 1/10 hal ini disebabkan jumlah zakat yang dibebankan berbeda dengan jumlah yang ditetapkan pada barang lain sehingga menjadi ciri khas. Ketentuan jumlah 1/10 atau 10% jika tanaman pertanian dihasilkan dengan pengairan yang tidak membutuhkan tenaga atau biaya besar. Sedangkan bagi kondisi sebaliknya, zakat yang dibebankan adalah 5%. Adapun nisabnya tergantung jenis tanaman itu sendiri, jika jumlah hasil panen mencapai 5 wasq atau sekitar 18 mound. (Irfan Mahmud Ra’ana, ibid, hlm: 77-97, dengan beberapa tambahan dari sumber lainnya)

Bahan Bacaan
  1. Irfan Mahmud Ra’ana, System Ekonomi Pemerintahan umar Ibn al-Khatab, terj. Mansuruddin Djoely, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1990
  2. Jalaluddin Rakhmat, Islam Aktual: Refleksi Sosial Seorang Cendikiawan Muslim, Mizan, Bandung, 2004
  3. Ahmad Hassan, Pengajaran Shalat, Diponegoro, Bandung, 2004
  4. Ibn Hajar al-Astqalany, Bulughu Al-Maram, al-Hidayah, Surabaya, tt
  5. H. Mahmud Aziz Siregar, MA., Islam Untuk Berbagai Aspek Kehidupan, Tiara Wacana Yogya, Jogjakarta, 1999
  6. Akmad Akbar Susamto, Zakat Sebagai Pengurang Penghasilan Kena Pajak; Sebuah Tinjauan Makroekonomi, SIMPONAS 1: Sistem Ekonomi Islam, P3EI-FEUII, Yogyakarta 13-14 Mart 2002
  7. Ma’sum Djauhari, Antaran Sejarah Muslim, Aji Sakti, Jakarta, tt

From → Artikel, Zakat

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: