Skip to content

Anjuran Islam Untuk Melestarikan Lingkungan Hidup

Februari 22, 2011

Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan.
(Q.S. al-Baqarah: 205)

Kasus ilegal logging rugikan Indonesia Rp 30 triliun!” demikian judul yang terpampang pada 24 Agustus 2004 di situs Astaga.com. Maka tak salah jika Guinnest Book of Record menempatkan Indonesia sebagai negara dengan laju pengrusakan hutan tercepat di dunia pada tahun 2007, mengalahkan Brazil dan negara-negara tropis lain di dunia.

http://www.youtube.com/watch?v=wxo6pLZHp90&feature=related

Bayangkan, dalam kurun waktu 2000 – 2005, tingkat kerusakan hutan di Indonesia sebesar 1,871 juta hektar per tahun. Jumlah itu setara dengan 300 lapangan bola setiap jamnya. Siapa yang tidak prihatin menyaksikan kondisi ini, kecuali orang-orang yang telah Allah butakan hatinya. Ironis sekali, di tengah berbagai musibah yang melanda negeri ini, tak ada hal lain yang bisa kita banggakan selain prestasi memuakkan semacam pemberian Guinest Book of Record 2007 lalu. Dan sayangnya, kerusakan lingkungan yang terjadi di negeri kita juga merambah komponen-komponen lingkungan hidup lain, dari mulai udara, air, tanah, sampai keanekaragaman hayati. Mari lihat apa yang ditulis Praminto Moehayat ketika menyarikan tulisan Mantan Kepala Pusat Studi Lingkungan Hidup UGM dan Staf Pengajar di Magister Perencanaan Kota dan Daerah UGM, Ir. Bobi Setiawan MA., PhD dari buku Kearifan Lingkungan Budaya Indonesia:

Sekitar 43 persen penduduk Indonesia masih tergantung pada kayu bakar. Dan pada 2003, hanya 33 persen penduduk Indonesia mempunyai akses pada air bersih melalui ledeng dan pompa. Tahun 2000, Jawa dan Bali telah mengalami defisit air mencapai 53.000 m³ dan 7.500 m³, sementara Sulawesi 42.500m³. Saat yang sama pula perlu diingat, banjir telah terjadi di berbagai tempat di Indonesia.  Hal ini menunjukkan bahwa kita telah salah mengelola air di bumi ini.

Sungguh bodoh jika kita sampai hati mengatakan bahwa kekurangan air bersih, banjir, penurunan muka air tanah dan lain sebagainya yang melanda bumi pertiwi kita, tidak disebabkan oleh kerusakan lingkungan hidup—akibat eksploitasi yang tidak bijak—melainkan karena gejala alam yang biasa terjadi? Ini sama saja dengan  menyatakan bahwa api muncul karena siraman air. Semuanya sudah jelas—bahkan terlampau jelas—sehingga tak ada lagi yang bisa kita tutup-tutupi. Green Peace, Walhi, dan para mujahid lingkungan hidup lainnya—serta tentunya polisi—sudah mengetahui fakta ini, namun sayangnya masih sekedar wacana untuk menghentikan kehancurannya.

Mari kita renungkan! Air yang semula merupakan barang murah meriah, kini seolah telah menjadi barang mewah. Air harus dibeli, karena persediaannya semakin menurun, dan kualitasnyapun semakin berkurang. Betapa iri hati kita mendengar cerita orang-orang terdahulu, ketika mereka mengatakan kejernihan air sungai yang mengalir di belakang ladang, atau cerita mengenai makanan yang melimpah ruah yang disediakan alam.  Sesuatu yang tak mungkin kita dapatkan di tengah gemuruh mesin industri, limpah ruah limbah, dan suara bising kendaraan bermotor masa kini.

Jika kita jeli menyaksikan berbagai fenomena baru di negeri ini, maka semuanya akan berputar pada satu poros yang sama, yakni kerusakan lingkungan hidup. Tren bisnis dan gaya hidup, semuanya berputar pada satu isu, isu lingkungan hidup. Demikian pula dengan percaturan politik internasional, semuanya tidak lagi terlalu fokus pada masalah hak asasi manusia, karena sekarang, eranya ialah era lingkungan hidup. Orang sudah tidak malu lagi mengatakan bahwa apa yang ia pakai ialah hasil daur ulang sampah, semuanya menjadi terlalu sulit untuk tidak dibanggakan. Artinya apa, artinya ialah semua orang telah sama-sama merasakan dampak yang terjadi akibat kerusakan lingkungan hidup. Satu contoh misalnya, global warming, pemanasan global. Hampir setiap orang yang kita temui akan selalu menyatakan sebuah pernyataan yang sama: dunia semakin panas. Suhu udara semakin menggerahkan, iklim semakin tak menentu dan makanan tak lagi seenak dulu. Itu semua bukan kesepakatan dalam konvensi, melainkan sebuah pernyataan jujur dari hati nurani; betapa dunia ini semakin tua dan rusak.

Sebagai seorang muslim, kita semua harus peduli terhadap semua itu, terhadap kerusakan hutan, pencemaran air sungai, ketahanan pangan dan lain sejenisnya. Bukan malah berburuk sangka terhadap para penggiat lingkungan hidup—yang notabene kafir—yang seringkali menyerukan pelestarian lingkungan hidup. Janganlah terlalu bodoh dengan menyatakan semua isu mengenai lingkungan hidup hanya taktik kaum zionis dan Amerika untuk mengalihkan isu kedzaliman mereka saja. Itu sama sekali tidak adil. Sebagaimana yang telah saya kemukakan di atas, semua ini terlalu bodoh untuk ditutup-tutupi. Dan perlu diingat, Islam dan Juru Bicaranya, Al-Quran, dini hari telah mengingatkan kita akan kerusakan lingkungan hidup, jauh sebelum para penggiat lingkungan hidup yang kita anggap kafir berteriak lantang. Allah SWT berfirman:

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan Karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (Q.S. al-Ruum: 41)

Telah “dzahir” kerusakan di darat dan di laut! Sekilas—tanpa perlu membuka tafsir—adakah diantara kita yang tidak sepakat mengenai kenyataan ini? Adakah penjelasan lain mengenai ayat ini? Atau adakah di antara kita yang berani mentafsirkannya sebagai sebuah ayat metafora? Saya rasa tidak, kiranya kita semua sefaham mengenai konteks ayat ini. Ayat ini berbicara mengenai kondisi real di lapangan, bahwa pada saat ayat ini diturunkan—1400 tahun yang lalu—kerusakan lingkungan hidup telah terjadi. Walau kita akan sulit menemukannya dalam sejarah, namun saya yakin, di berbagai masa, akan selalu ada momen dimana manusia tidak peduli terhadap lingkungannya, demi keuntungan pribadi. Mungkin ini tabiat dasar manusia.
Mungkin pula tabiat merusak inilah yang dikhawatirkan Jibril a.s., saat Allah SWT hendak menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Berikut al-Quran mengabadikannya.

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Q.S. al-Baqarah: 30)

Ketika Jibril mengatakan tabiat “…berbuat kerusakan…” ini, dengan ijin Allah SWT mungkin ia telah mengetahui masa depan umat manusia yang akan mengelola bumi ini. Mungkin saja dalam pengetahuannya itu, Jibril a.s. melihat sebagian besar manusia menampakan kerakusannya dengan mengeksploitasi habis sumber daya alam yang telah dikaruniakan Allah SWT kepada mereka, tanpa memperhatikan aspek kelestarian.
Saya bahkan berasumsi bahwa kerusakan lingkungan hidup selalu mengiringi setiap langkah peradaban manusia.  Saat bangsa Mesir melakukan irigasi dengan air laut, tanah pertanian menjadi rusak, karena kadar garam tinggi. Secara kimiawi, kadar garam tinggi kurang baik untuk tanaman, akibatnya tanaman mati dan gagal panen tak terelakkan lagi. Sejalan dengan itu, ketahanan pangan hancur dan kelaparan terjadi dimana-mana. Kejadian ini tentunya jauh sebelum al-Quran turun, dan mungkin ayat al-Ruum: 41 yang dikutip di atas berbicara mengenai berbagai fenomena kerusakan lingkungan hidup yang terjadi di berbagai tempat dan masa. Karena itu, hemat saya, ketika ayat tersebut menggunakan fi’il madi (past tense) dzahara yang artinya telah nampak, ayat ini seolah hendak mengingatkan kita bahwa kerusakan lingkungan hidup merupakan sesuatu yang dulu telah terjadi—dan jangan sampai terulang lagi. Semua kerusakan ini mesti dijadikan ibrah (pelajaran) bagi umat manusia seluruhnya bahwa Allah tidak menurunkan sesuatu dengan sia-sia, karenanya jangan menyia-nyiakan, merusak apalagi menganggap murah apa yang Allah telah ciptakan untuk kita, umat manusia.  Allah SWT berfirman:

Dan tidaklah Kami ciptakan Iangit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dengan bermain-main. (QS. al-Anbiyaa’: 16)

Perlu diketahui, di balik kerimbunan pepohonan yang menutupi permukaan bumi, serta di balik penciptaan keanekaragaman hayati oleh Allah SWT, terdapat peran yang luar biasa hebatnya, sehingga tak akan mungkin tergantikan oleh teknologi mana pun. “Peran” yang dalam bahasa al-Quran dinisbahkan pada “hikmah” mengandung pesan sakral bahwa semua karunia ini tidak boleh ditangani secara main-main, karena Kami pun tidak menciptakan Iangit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dengan bermain-main. Dalam keagungan bahasanya, al-Quran seolah hendak menekankan sebuah urusan yang serius dan harus disimpulkan secara bijak oleh manusia yang mengkajinya.

Karena ini tidaklah main-main, maka apa yang meliputi keduanya (langit dan bumi), serta apa yang ada diantara keduanya telah mencapai suatu kondisi yang seimbang, sehingga bila salah satu bagian pembentuk keseimbangan itu hilang, maka akan terjadi gangguan terhadapnya. Sebagaimana sebuah timbangan ketika salah satu sisi timbangan dikurangi bagiannya, maka sisi sebelahnya akan terjatuh. Misalnya, ketika Allah menciptakan hutan yang dirimbuni tegakan pepohonan yang tinggi besar, maka sesungguhnya sejumlah besar karbondioksida yang menjadi gas rumah kaca (GRK) terurai oleh pepohonan tersebut untuk kemudian menjadi oksigen dan karbohidrat (gula) yang berguna bagi manusia dan hewan. Di saat yang sama, air hujan teresapkan ke dalam tanah, melalui mekanisme penyerapan yang luar biasa, sehingga kemudian muncul sebagai mata air yang—lagi-lagi—bermanfaat bagi manusia. Demikian keseimbangan ini berjalan, sampai kemudian sekelompok manusia yang rakus dan congkak (kaum kapitalis immoral alias mustakbirin) menebang pepohonan yang merimbuni hutan secara tidak bijak. Ketika ini terjadi, kadar karbondioksida di udara meningkat, dan mata air pun menghilang. Meningkatnya karbondioksida beserta sejumlah gas rumah kaca lainnya memicu terjadinya pemanasan global dan selanjutnya memicu perubahan iklim. Sementara itu, mata air yang menghilang disebabkan oleh kuantitas aliran permukaan yang besar, akibat tidak adanya pepohonan penyerap air serta tanaman penutup tanah, sehingga air yang meresap berkurang. Laju aliran permukaan yang besar memicu terjadinya banjir. Kondisi ini menghanyutkan unsur hara tanah yang menjadi makanan penting bagi tanaman. Unsur hara penting yang tercuci dan terhanyutkan ini meninggalkan sejumlah logam berat di dalam tanah. Kondisi ini kurang baik untuk mikroorganisme tanah, akibatnya tanah menjadi keras dan mudah tererosi. Sebagaimana yang kita ketahui, tanah yang tererosi secara terus menerus menimbulkan longsor dan selanjutnya mengakibatkan pendangkalan air sungai. Dengan terjadinya longsor, jika ini menimpa pemukiman penduduk dipastikan akan menimbulkan korban jiwa. Sementara itu, pendangkalan sungai mengurangi populasi ikan di sungai. Demikian yang terjadi jika keseimbangan yang telah Allah SWT ciptakan dihancurkan. Sungguh, keseimbangan ini merupakan manifestasi kesucian dzat-Nya yang tak ternodai oleh sedikitpun kesalahan. Ini merupakan cermin keagungan dari yang Maha Kuasa.

Sucikanlah nama Tuhanmu yang Maha Tingi,Yang Menciptakan, dan menyempurnakan (penciptaan-Nya), dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk, (Q.S. al-A’laa: 1-3)

Sebagaimana ayat di atas, Allah SWT telah menciptakan segala sesuatu yang ada di jagat ini sesuai dengan kadar (ukuran) masing-masing serta memberinya petunjuk. Kadar yang ditentukan ini dapat kita lihat di sekeliling kita; apa yang kita lihat, dengar, dan rasakan. Ini merupakan manifestasi fisis dari rencana Ilahi; gunung yang menjulang dengan sangat  tinggi dan luas, langit yang terbentang tanpa sambungan, matahari yang bersinar terang, awan yang meneduhi permukaan di bawahnya, dan lain sejenisnya. Semua itu ialah ukuran yang telah ditetapkan, dan kita semua bisa menyaksikannya. Namun, di balik semua itu, ada petunjuk Ilahi yang seringkali kita lupa syukuri. Gunung yang menjulang tinggi bagaikan pasak yang menahan bumi dari goncangan , matahari yang bersinar terang menguraikan karbondioksida menjadi karbohidrat dengan mekanisme luar biasa yang hasilnya sangat bermanfaat untuk umat manusia, awan yang teduh memulai siklus hidrologi, sehingga air yang ada di lautan bisa sampai ke puncak pegunungan, dengan air itu Allah SWT menghidupkan tanah yang dulunya mati . Semuanya merupakan petunjuk Ilahi yang telah ditetapkan atas seluruh  makhluk ciptaan-Nya. Kita lupa dengan semua itu, kita hanya terkesima dengan kadar namun lupa mensyukuri petunjuk Ilahi yang menjadi peran di baliknya.

Sesungguhnya kami Telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan kami adakan bagimu di muka bumi (sumber) penghidupan. amat sedikitlah kamu bersyukur. (Q.S. al-A’raaf: 10)

Dengan demikian, jika kita tarik semua permasalahan lingkungan ke pangkalnya, maka akan kita temukan bahwa semua itu berawal dari hilangnya rasa syukur dari sebagian besar manusia bermodal. Banyak orang tidak lagi mengindahkan prinsip ekologis dalam mengelola alam. Itu semua karena kerakusan yang merasuki jiwa mereka. Sesungguhnya, jika masih ada sedikit rasa syukur dalam diri mereka, maka mereka akan merasa cukup dengan sedikit harta. Sayangnya, yang ‘beredar’ di permukaan bumi ini ialah manusia-manusia yang tidak pernah memiliki rasa puas dalam dirinya.

Anjuran Islam Bagi Pelestarian Lingkungan Hidup
Di dalam sebuah hadits dikatakan bahwa jika kita menanam sebuah tanaman, kemudian tanaman tersebut diambil manfaatnya oleh burung dan manusia, maka semua itu termasuk sedekah. Kemudian dalam hadits lain dikatakan bahwa jika kita hidup beberapa saat sebelum hari akhir sementara dalam genggaman kita ada sebutir biji tanaman, maka kita dianjurkan untuk menanamnya.

Dalam fiqih, berdasarkan hadits nabi pula, jika seseorang menghidupkan tanah yang mati, maka tanah tersebut menjadi hak milikinya. Semua ini menunjukan bahwa Islam sangat menjunjung tinggi kelestarian lingkungan hidup. Kita semua ketahui, ketika hendak berangkat menuju ke medan pertempuran, nabi seringkali berwasiat agar tidak membunuh anak-anak, orang tua, dan menghancurkan tanaman. Tidak hanya karena nabi mengetahui nilai komersil sebuah tanaman, melainkan karena pengetahuannya yang luas, nabi mengetahui bahwa tanaman memiliki aspek ekologis yang penting. Sebagaimana diketahui pula, para sahabat nabi memiliki prilaku yang sama mengenai kecintaan pada lingkungan hidup. Seorang sahabat nabi pernah menanam berpuluh-puluh batang kurma sebagai jaminan kemerdekaan dirinya dari perbudakan.

Dan telah menjadi tradisi di kalangan arab timur tengah yang—saya kira—berasal dari kebiasaan para nabi untuk menjaga sumber air di tengah oase. Di tengah padang pasir yang gersang dan panas, oase menjadi pelarian yang menjanjikan. Di sanalah orang-orang badui arab mengembalakan ternaknya, mengambil air dari wadi untuk keperluan sehari-hari dan membangun areal pertanian di sekitarnya. Begitu berharganya sebuah oase, sehingga seringkali terjadi pertempuran antar suku untuk memperebutkannya—hal yang sampai sekarang masih sering terjadi di negara gurun yang miskin seperti Afganistan. Pandangan mereka memang masih antroposentris, mempertahankan kelestarian lingkungan hidup agar kelangsungan hidupnya terjamin. Walaupun demikian, mereka jauh lebih maju dari kita. Di tengah kekayaan alam yang melimpah, kita rela menjual tanah subur kita untuk kepentingan pembangunan industri dan infrastruktur non-pertanian, padahal butuh bermiliyar-miliyar investasi yang ditanamkan untuk membangun sarana irigasi dan drainase. Dan kita juga menyadari jika kita menjual lahan subur kita, maka secara langsung maupun tidak langsung pasokan pangan nasional akan terganggu.

Yang paling menyedihkan, hutan kita yang sangat luar biasa dalam menyimpan kekayaan genetik alam tropis, rela kita jual untuk kepentingan jangka pendek: pertambangan. Padahal kita juga tahu setelah ditambang, tanah tidak akan produktif lagi. Apalagi jika kita mengingat nilai tambang yang tak seberapa dibandingkan dengan kayu yang ada diatasnya. Islam yang kita anut, tidak pernah dijadikan aturan main dalam kehidupan sehari-hari. Akibat ulah kita juga, Islam tidak lagi menjadi rahmatan lil ’alamin. Padahal hal-hal kecil seperti pelestarian lingkungan hiduplah yang seharusnya menjadi fokus utama saat kita lantang berteriak ”Laksanakan syariat Islam di Indonesia!”

Dahulukan Yang Utama
Satu hal yang perlu kita renungkan, pelestarian lingkungan hidup dan konservasi genetik membutuhkan biaya yang sangat mahal. Namun bukan berarti kita harus menangguhkan aspek-aspek ’yang mendesak’ di dalamnya. Seperti misalnya: konservasi hutan lindung, pencagaran lahan hijau ideal, sehingga tetap berada pada luasan 1/3 luas daratan, dan lain sejenisnya. Hal-hal tersebut sangat mendesak untuk dilakukan, karena menyangkut ”…hajat hidup orang banyak” bukankah negara yang seharusnya menanggung semua ini?
Sementara itu, hal-hal lain yang selalu ditangguhkan pelaksanaannya—karena sifatnya yang seringkali dipandang tidak mendesak—ialah konservasi sumber daya genetik. Kita semua mafhum untuk pelestarian sumber daya genetik, sebagai contoh Elang Jawa (Spizaetus bartelsi) butuh dana miliyaran rupiah—atau mungkin dollar—untuk mengembalikannya pada kondisi ideal. Seandainya ada pihak yang beritikad baik untuk melakukan konservasi terhadapnya, maka pihak lain yang lebih sosialis akan lantang berkata ”Bukankah orang miskin dan anak-anak terlantar masih banyak? Tidakkah lebih baik jika uang miliyaran itu kita gunakan untuk memenuhi kelayakan hidup mereka?” ya mereka memang menjadi tanggungan kita, namun perlu kita ingat, konservasi genetik dan penyantunan anak-anak terlantar tidak bisa dilakukan secara berjangka. Kedua-duanya sama pentingnya. Jika kita mendahulukan yang pertama dan mengakhirkan yang kedua, maka itu bukan solusi yang tepat, sebaliknya juga sama. Yang tepat  ialah melakukan keduanya secara bersama-sama. Menyantuni anak yatim hukumnya wajib, konservasi genetik pun wajib. Hanya saja, porsi materil di antara keduanya lebih disesuaikan.

Hendaknya disusun skala prioritas. Spesies manakah yang paling penting untuk diselamatkan—semuanya didasarkan pada peran spesies tersebut di ekosistemnya. Seandainya kepunahan elang jawa berakibat kecil pada jaring-jaring makanan di alam, dan kedudukannya masih bisa digantikan oleh elang brontok (Spizaetus cirrhatus) yang populasinya lebih baik dari elang jawa—walau sama-sama buruk—misalnya, maka pelestarian besar-besaran terhadapnya tidak mesti dilakukan. Namun jika kepunahannya mengakibatkan meledaknya populasi hama tertentu, misalnya populasi tikus, maka konservasi besar-besaran terhadapnya harus dilakukan, mengingat perannya dalam menyelamatkan lahan pertanian dari gangguan tikus. Keberadaannya secara langsung menjaga kehidupan kita semua.

Perlu kita ingat melakukan konservasi genetik dan membentuk bank genetik berarti memberikan jaminan hidup bagi keturunan kita. Dahulu kala terjadi wabah penyakit sereh terhadap tanaman tebu kita. Namun karena kita masih menyimpan glagah (Saccharum spontaneum), kerabat tebu yang liar dan terabaikan, maka sampai sekarang negeri kita masih menyimpan cadangan berjuta ton tebu untuk kebutuhan nasional. Kawin silang di antara keduanya pada 1881 membentuk spesies baru yang lebih tahan penyakit .

Ternyata berabad-abad lampau, nenek moyang kita pun  mempunyai pemikiran yang maju dalam konservasi genetik. Mereka membiarkan berbagai spesies hewan liar yang terdomestikasi tetap hidup di habitatnya. Sebagai contoh banteng (Bos javanicus). Dulu, nenek moyang kita menjinakkan banteng liar untuk dijadikan hewan peliharaan sebagai sumber makanan. Di kemudian hari banteng jinak ini lebih dikenal sebagai Sapi Bali. Karena sadar eksploitasi berlebih akan mengganggu keberadaan spesies ini di alam, maka mereka membuat peraturan: dilarang memasuki hutan—larangan—kecuali oleh pihak-pihak tertentu pada waktu-waktu tertentu. Dengan demikian keberadaan sang Banteng dan habitatnya tetap terjaga. Hebatnya, kita masih bisa menemukan banyak spesies langka di kawasan hutan larangan sisa peninggalan nenek moyang kita. Kebijakan konservatif seperti yang dicontohkan nenek moyang kita inilah yang seharusnya kita jadikan acuan, karena terbukti lebih islami dan relevan dengan kemanusiaan dibandingkan ijtihad yang kita lakukan.

Dalam ushul fiqih, urgensi pelestarian lingkungan hidup—termasuk di dalamnya, konservasi genetik—digambarkan dalam sebuah kaidah: sesuatu yang mengantarkan kepada yang wajib, maka hukumnya wajib pula. Shalat itu wajib, maka berwudhu sebagai pengantar shalat hukumnya menjadi wajib. Bukankah menjaga kelangsungan hidup umat hakikatnya juga wajib? Maka hal-hal yang mengantarkan pada kelangsungan hidup umat, seperti pelestarian lingkungan hidup hukumnya wajib pula. Perlu diingat masalah kemiskinan dan keterlantaran akan selalu menjadi bagian dari peradaban umat manusia, demikian pula dengan masalah lingkungan hidup. Sekarang, bagaimana kita bisa bijak membagi tenaga, waktu dan pikiran. Mana yang harus dilakukan? Mencurahkan semuanya pada satu aspek tak berarti setiap masalah yang ada di dalam aspek yang bersangkutan akan tuntas. Melakukan keduanya secara berjejang berarti menunggu saat kehacuran keduanya. Yang terbaik tetaplah dahulukan yang utama sambil mengupayakan yang kedua.

Sanitasi Lingkungan: Bagian dari Iman
Sudah jamak di pemahaman kita semua bahwa kebersihan ialah sebagian dari iman. Kata-kata yang terangkai sedemikian sederhananya, sampai-sampai semua orang tahu pelapalannya. Namun apakah pelaksanaanya telah menjadi jamak? Sejauh ini belum. Sejauh ini, uraian kata di atas masih menjadi ungkapan retoris di sebagian besar Umat Islam. Walau sadar kebersihan telah memasuki lingkaran aqidah, faktanya pelaku terbesar sanitasi yang buruk ialah umat Islam, terutama yang ada di negara berkembang. Anda bisa melihat bagaimana kondisi jamban sebagian besar mesjid di tanah air. Kebanyakan—yang saya saksikan—tidak bersih dan sering berbau busuk. Padahal, notabene mesjid ialah tempat ibadah umat Islam. Coba kita masuki ruangan dalam mesjid, kemudian angkat karpet tempat kita sujud di tepian depannya. Kalau bukan puntung rokok, maka setidaknya gumpalan debu akan kita dapatkan. Beranjak dari tempat ibadah, datangilah sungai-sungai yang mengalir di tengah-tengah kawasan pemukiman Muslim. Dipastikan—khususnya di Indonesia—Anda akan menemukan sampah yang menggunung atau pemukiman yang terletak di bantaran sungai. Di sungai yang sama, anak-anak muslim mandi dan buang hajat, demikian pula kedua orang tua dan saudara-saudara muslim mereka. Ikuti jalan mereka menuju ke sekolah. Dipastikan di kiri kanannya berserakan sampah dan selokan yang kotor. Setelah sampai di sekolah, amati jamban sekolah. Bagaimana keadaannya? Benarkah Islami? Apakah itu Iman yang sempurna?

Di banyak tempat, sanitasi seringkali terabaikan. Anehnya, kita yang mengaku Muslim masih bisa beribadah dengan ”khusyu” di tengah gunungan sampah dan luapan banjir sungai. Tentunya kata khusyu itu pun perlu kita kaji ulang. Qad aflaha al-mu’minun, alladzina hum fi shalatihim khasyiuun, Wa alladzina hum ani al-laghwi mu’ridzhun. Sungguh aneh bukan kita masih bisa melakukan tiga hal: satu, mengklaim mu’min; dua, mengklaim bisa khusyu shalat; dan tiga, tapi masih melakukan perbuatan yang tiada bermanfaat, yakni buang sampah sembarangan, buang hajat sembarangan, mencemari lingkungan seenaknya, aneh bukan?

Idealnya ketiga hal tadi muncul secara alamiah. Ketika seorang muslim sudah bisa menghindari perbuatan tak berguna, kemudian khusyu dalam shalatnya, maka ia diklaim oleh malaikat yang menjaga dan mencatat amal baiknya sebagai seorang Mu’min. Apakah perbuatan yang tak berguna itu? Dalam konteks pembahasan kali ini ialah buruk dalam hal sanitasi. Bukankah orang yang dicintai Allah itu gemar bersanitasi?

. . .Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. (QS. al-Baqarah: 222)

Perlu diingat, Umat Muhammad ialah umat yang tangguh dalam hal sanitasi dan kesehatan. Pernah suatu ketika utusan Romawi menawarkan tiga hal pada nabi, yakni seorang dokter, seorang budak perempuan dan kalau tidak salah yang ketiga ialah seekor keledai. Semuanya bisa diambil oleh Nabi, kecuali sang dokter yang tidak banyak berbuat apa-apa, karena Umat Muhammad sehat-sehat karena rajin bersiwak dan bersanitasi dengan baik. Mereka tahu, dimana harus bersuci dan membuang hajat. Mereka tahu bagaimana standar ideal dari lingkungan yang bersih, dan akhirnya mereka tahu bagaimana cara menjadi kuat dan sehat, sehingga mereka sampai pada suatu kesimpulan bersama: kebersihan lingkungan dan prilaku sanitasi yang baik dari setiap individu akan membentuk sebuah masyarakat yang kuat. Dan dengan cara inilah dulu Islam menang, karena dulu para penganutnya sehat dan cerdas. Tidak seperti kita yang malas mencari ilmu dan membersihkan diri.
Wa Allah(u) A’lam bi ash-Shawab

 

sumber: http://alhayatnature.blogspot.com/2010/12/anjuran-islam-untuk-melestarikan.html

From → Artikel

3 Komentar
  1. thx infonya……

    sangat bermanfaat.

    kunjungi balik!

    • alhamdulillah sama-sama terimakasih sudah berkunjung🙂
      baik saya kunjugi blognya..

      Penggemar Bersepeda ya Pa Ameer , subhanallah

Trackbacks & Pingbacks

  1. Tweets that mention Anjuran Islam Untuk Melestarikan Lingkungan Hidup « Zakat On Twitter -- Topsy.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: