Skip to content

Zakat Dari Hasil Korupsi

Februari 7, 2011

Oleh:

Kardita Kintabuana Lc., MA.

Dewan Syariah Rumah Zakat Indonesia

Islam selalu memerintahkan bahwa sumber harta, proses memperolehnya, dan pertumbuhannya harus halal dan baik. Allah SWT berfirman: “Hai manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagimu” (QS. Al-Baqarah: 168).

Selain itu, Allah SWT telah melarang semua bentuk dan jenis pendapatan dan harta yang haram dan buruk, baik sumber maupun proses perolehannya. Sebab, semuanya itu merupakan tindakan aniaya terhadap orang lain. Allah SWT berfirman: “Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain diantara kamu dengan jalan yang batil…” (QS. Al-Baqarah: 188).

Pada zaman sekarang terdapat bermacam harta yang diperoleh dengan cara batil (haram) dan tidak sesuai dengan syariat, misalnya: riba, suap, ghasab, penipuan, jual beli jabatan, uang palsu, judi, pencopetan, pencurian, cuci uang (money laundering), korupsi, hasil dari jual beli barang yang diharamkan, seperti babi, narkoba, dan minuman keras.

Semua jenis harta di atas, tidak wajib dizakati atau tidak tunduk kepada aturan zakat, berdasarkan firman Allah SWT: “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan dari padanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji” (QS. Al-Baqarah: 267).

Sobat zakat, harta hasil korupsi pada dasarnya merupakan harta yang diperoleh dari cara yang tidak halal/haram. Oleh karena itu hukumnya berlaku sebagaimana harta-harta haram lainnya.

Pemegang harta haram, jika ia mengeluarkan zakat atas harta tersebut maka zakatnya tidak sah dan tidak akan diterima, sebagaimana kaidah ushul fiqih mengatakan: “Maa haruma akhdzuhu haruma i\\\’thoouhu”. Artinya, sesuatu yang diharamkan mengambilnya, maka diharamkan pula memberikannya. Demikian pula ia tidak mendapatkan pahala dari apa yang ia lakukan, sebaliknya ia berdosa karena ia masih memegang harta haram.

Beberapa dalil yang menjelaskan hal tersebut sebagai berikut:

·          Dari Abu Hurairah ra berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah itu bagus (baik); tidak menerima kecuali dari yang baik pula, dan sesungguhnya Allah memerintahkan orang-orang beriman sebagaimana Dia perintahkan kepada para Rasul, lalu berfirman: ‘Hai para Rasul makanlah yang baik-baik dan berbuatlah yang baik pula…’ (QS. Al-Mu’minun: 51), dan ‘Hai orang-orang beriman makanlah yang baik-baik dari rizqi yang Kami berikan kepada kalian…’(QS. Al-Baqarah: 172). (Sahih Muslim, Zakat (1015); Sunan Tirmidzi, tafsir Al-Qur’an (2989); Musnad Ahmad (2/328); Sunan Ad-Darimi, Ar-Riqaq (2717)).

Syeikh Al-Mubarakafuri dalam kitab Tuhfat al-Ahwadzi menerangkan: kata “Thayyib”di dalam hadits ini artinya yang halal, ini berarti harta yang tidak halal/haram tidak akan diterima, lalu menukil perkataan Imam Al-Qurtubi: “Sesungguhnya Allah tidak menerima shadaqah/zakat dengan yang haram, karena harta haram bukan milik yang bersedekah dan dilarang baginya untuk menyalurkannya” (Tuhfat al-Ahwadzi syarah Sunan Tirmidzi)

·          Dari Ibnu Umar ra, beliau terima dari Rasulullah SAW, bersabda: “Allah tidak akan menerima shalat seseorang tanpa bersuci (berwudlu), dan tidak menerima shadaqah/zakat dari harta curian/korupsi (Ghulul). (Sahih Muslim, bab Wujub ath-thaharah li ash-shalat (557); Sunan Nasa’I, Thaharah (139); Sunan Abu Dawud, Thaharah (59); Sunan ibnu Majah, Thaharah (271); Musnad Ahmad (5/74); Sunan Ad-Darimi, Thaharah (686).

·          Dari Ibnu Mas’ud ra beliau terima dari Nabi SAW bersabda: “Seorang hamba memperoleh harta haram lalu menginfakkannya seolah-olah diberkahi dan menyedekahkannya semua hartanya seolah-olah diterima melainkan usahanya itu makin mendorongnya masuk ke neraka, sesungguhnya Allah tidak akan menghapuskan keburukan dengan keburukan, akan tetapi menghapuskan keburukan dengan kebaikan; sesungguhnya kenistaan tidak akan menghapuskan kenistaan” (Musnad Ahmad 1/387).

·          Ibnu Abbas ra pernah ditanya tentang seseorang yang melakukan kedzaliman dan mengambil harta haram, lalu ia bertaubat kemudian ia berhaji, berumrah, dan bersedekah dengan harta haram itu, beliau menjawab: “Sesungguhnya keburukan tidak akan menghapuskan keburukan. Demikian juga Ibnu Mas’ud ra berkata: “Sungguh yang buruk tidak akan menghapus yang buruk, tetapi yang baik akan menghapus yang buruk”. (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam: 85)

·          Imam Hasan Al-Bashri berkata: “Ketahuilah bahwa Shadaqah/zakat dengan harta haram mencakup 2 hal:

Pertama: Si pelaku pencurian/korupsi  bersedekah untuk dirinya, maka perbuatan itu tidak akan diterima sebagaimana dijelaskan dalam hadits-hadits Rasul. Demikian pula ia tidak akan mendapat pahala, bahkan berdosa dengan memberikan harta yang bukan miliknya tanpa izin; pemilik harta tersebut pun tidak mendapat pahala karena dia tidak meniatkan untuk itu. Itulah pendapat sejumlah ulama diantaranya: Ibnu ‘Aqil.

Kedua: Si pelaku pencurian/korupsi bersedekah untuk pemilik harta itu apabila tidak memungkinkan untuk mengembalikannya kepada si pemilik maupun ahli warisnya. Hal ini boleh dilakukan berdasarkan pendapat sebagian besar ulama, diantaranya Imam Malik, Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad, dll. Sedangkan Imam Syafi’I berpendapat bahwa harta haram sebaiknya disimpan dan tidak boleh disedekahkan sampai betul-betul ada kejelasan siapa pemiliknya (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam: 86-90)

Wallahu a’lam bish Shawab

sumber: http://www.rumahzakat.org/detail.php?id=4919&kd=DSY

From → Zakat

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: