Skip to content

Berhijrah Dengan Sebenar-Benarnya Hijrah

Desember 8, 2010

Hasan Al Bashri mengatakan, “wahai manusia, sesungguhnya kalian hanya memiliki beberapa hari. Tatkala satu hari hilang, akan hilang pula sebagian darimu.”

Begitu cepat waktu bergulir, berlari kencang, detik demi detik berlalu tanpa terasa betapa masa sudah terlewat tanpa goresan sejarah berharga di dalamnya. Kita hanya berlomba melintasi hari-hari setiap tahunnya, tanpa berkompetisi untuk kehidupan akhirat yang nyata. Itulah kita, manusia penikmat kudapan dunia yang masih belum sadar bahwa diri kita berada dalam labirinnya.

Wahai jiwa, amalan apa yang sudah kau lakukan tahun ini? Apa yang sudah kau siapkan untuk hari nanti? Gelintir pertanyaan itu akan sedikit mengusik pribadi kita yang sudah kaku dengan kenyataan. Kehidupan kemarin sudah kita sia-siakan dengan beban duniawi yang selalu menyita pikiran pada pagi hari ketika dihidupkan kembali oleh-Nya dari kematian sementara.

Saudaraku, sudahkah kita memberangkatkan diri ini untuk berhijrah dengan sebenar-benarnya hijrah? Menyambut hari-hari baru dengan niat dan impian terbaik tidaklah cukup bagi diri seorang hamba. Rencanakanlah ia untuk berubah menuju ke arah yang lebih baik dari hari ini dan kemarin dengan membuat  standarisasi nilai ruhiyah dan amalan unggulan yang akan dipersembahkan untuk Robbul ‘Alamin. Bukankah Anda satu bagian dari ummat terbaik, seorang khalifah di dunia fana ini. Jika bukan, berarti Anda termasuk dalam golongan manusia penikmat dunia yang tidak bersyukur. Mereka yang sudah merasa nyaman dengan buaian dunia itu berkata, “waktu muda hura-hura, waktu tua kaya raya, kalau mati masuk surga.”

Namun, pandangan mereka mungkin akan berubah jika mampu meresapi makna sebuah syair Arab yang menggambarkan karakter sang waktu, “waktu laksana pedang. Jika kamu tidak memanfaatkannya, ia akan menebasmu.”

Sejak detik ini, mari kita tinggalkan kelenaan untuk menghadapi masa yang akan datang di hadapan. Mari berhijrah dengan sebenar-benar hijrah. Paling tidak, ada dua jenis hijrah yang dapat kita upayakan saat ini juga.

1. Hijrotunnafs (menghijrahkan jiwa)

Ketika jiwa mulai teracuni nilai-nilai Al Wahn (cinta dunia dan takut mati) dia semakin renta untuk berserah kepada-Nya. Ia hanya akan menjadi budak derita dunia yang selalu angkuh dengan pengharapan dan angan-angan kosong yang di hadirkan. Kebahagiaannya hanya sekelebat bayangan yang pada kenyataannya hanya berupa keburukan. Jika kau merancang hari depanmu hanya untuk duniamu maka ia saja yang akan datang menghampirimu. Lain halnya jika kehidupan akhirat kau rancangkan untuk masa depanmu, ia akan memberi akhirat beserta kenikmatan dunia di hadapanmu. Oleh sebab itu, rendamlah dirimu saat ini di telaga akhirat yang penuh berkah.

“Barangsiapa yang keinginannya hanya kehidupan akhirat maka Allah SWT akan memberi rasa cukup dalam hatinya, menyatukan urusannya yang berserakan dan dunia datang kepadanya tanpa dia cari. Barangsiapa yang keinginannya hanya kehidupan dunia maka Allah SWT akan menjadikan kemiskinan selalu membayang-bayangi di antara kedua matanya, menceraiberaikan urusannya dan dunia tidak akan datang kepadanya kecuali sekadar apa yang telah ditentukan baginya,” (H.R. Tirmidzi).

2. Hijrotul’amal (menghijrahkan perbuatan)

Tidak usah kita bersusah hati meragukan keikhlasan sedekah-sedekah kita. Biarkan ia menjadi amal kebaikan laksana hujan, meneduhkan dan menghidupkan tumbuhan yang dibasahinya. Kemudian butir kebaikan itu meresap dan membentuk aliran sungai yang lembut bergemericik tenang, diantar ke lautan pahala. Ia akan bernilai pahala dan menggumpal di awan-awan jiwa kita yang siap mengalirkan kebaikan kembali. Sadarilah fungsi kita sebagai ruh baru di jasad ummat yang satu. Kita akan melipatgandakan derajat diri kita dengan amalan terbaik di sisa usia kita. Jangan sampai kita menjadi pribadi yang merugi karena ketidakpahaman dan penyimpangan niat pada setiap amalan kita.

“Katakanlah,’maukah Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi amal perbuatannya?’  ‘Yaitu orang-orang yang telah sia-sia amal perbuatannya dalam kehidupan dunianya, sedangkan mereka menyangka telah beramal dengan sebaik-baiknya,”(Al Kahfi: 103-104).

Bukankah kebaikan yang Allah SWT berikan lebih nikmat terasa dibandingkan kenikmatan dunia yang mudah didapatkan. Biarkan masa yang berlalu kelak menjadi masa pembuktian diri kita sebagai hamba Allah SWT yang dicintai-Nya sebagaimana kita mencintai-Nya beserta orang-orang yang mencintai-Nya.

Ditulis Oleh: Muhammad Haden Aulia Husein

sumber: http://rumahzakat.org/detail.php?id=7524&kd=A

From → Artikel

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: